KTT BRICS Tegaskan Urgensi Perlindungan Data di Tengah Laju Cepat AI Global

kebotekno.com – Para pemimpin dunia yang tergabung dalam KTT BRICS Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan menyuarakan pentingnya perlindungan data pribadi di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di Brasil, mereka sepakat bahwa setiap negara harus menjaga kedaulatan digital masing-masing. Selain itu, mereka juga menekankan perlunya kolaborasi untuk menciptakan ekosistem teknologi yang lebih adil.

Regulasi Etis Jadi Sorotan Utama

Presiden Brasil, Luiz InĂ¡cio Lula da Silva, membuka forum dengan pernyataan bahwa dunia harus mengatur AI secara etis. Ia menegaskan bahwa inovasi tidak boleh berjalan tanpa batas. Menurutnya, tanpa regulasi yang ketat, AI bisa menciptakan ketimpangan sosial baru. Bahkan, teknologi ini berisiko melanggar privasi individu serta memberi ruang bagi penyalahgunaan data oleh pihak tak bertanggung jawab.

Rusia dan Tiongkok Dorong Aturan Global

Presiden Rusia, Vladimir Putin, bersama Presiden Tiongkok, Xi Jinping, menyarankan pembentukan kerangka hukum internasional untuk perlindungan data. Keduanya menyampaikan bahwa pengembangan teknologi harus berjalan seiring dengan keamanan informasi publik. Oleh karena itu, mereka mendorong negara-negara BRICS untuk menyusun standar yang adil dan transparan. Di sisi lain, mereka juga membuka ruang kerja sama lintas sektor untuk memperkuat kapabilitas digital bersama.

India Ingin Inovasi Tetap Aman

Perdana Menteri India, Narendra Modi, menyatakan bahwa negaranya sedang menyusun kebijakan nasional AI. Kebijakan itu akan fokus pada keamanan siber dan perlindungan data pribadi. Lebih lanjut, Modi mengajak anggota BRICS untuk berbagi pengalaman dan praktik terbaik. Dengan begitu, setiap negara dapat menyeimbangkan pertumbuhan inovasi dan kepentingan publik secara menyeluruh.

Afrika Selatan Dorong Keadilan Teknologi

Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, menyoroti pentingnya akses teknologi yang merata. Menurutnya, AI tidak boleh hanya menguntungkan negara maju atau perusahaan besar. Sebaliknya, ia mendorong pertukaran teknologi secara adil dan berkelanjutan. Meskipun begitu, ia juga menekankan pentingnya membangun kapasitas digital lokal agar negara berkembang tidak hanya menjadi konsumen teknologi.

Deklarasi Bersama dan Rencana Aksi

Pada penutupan KTT, para pemimpin BRICS menandatangani deklarasi bersama. Dokumen itu berisi komitmen untuk menjaga privasi data, menjunjung kedaulatan digital, serta memperkuat kerja sama riset AI. Selain itu, mereka menyusun rencana aksi lima tahun yang meliputi pertukaran pengetahuan, pengembangan teknologi bersama, dan pembentukan regulasi kolektif.

Harapan Menuju Masa Depan Digital yang Adil

Pertemuan BRICS kali ini menunjukkan kesadaran global terhadap risiko di era digital. Meski teknologi terus berkembang, perlindungan data harus menjadi prioritas. Dengan kerja sama yang erat, negara-negara BRICS berharap dapat membentuk masa depan digital yang lebih aman, inklusif, dan bertanggung jawab.